This is default featured slide 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Minggu, 19 Mei 2013
Kamis, 18 April 2013
White Spot
Penyakit white spot mungkin boleh dibilang penyakit yang sangat populer karena banyak di-temukan menyerang koi di kolam taman maupun kolam penampungan. Bintik-bintik putih akan tampak di permukaan badan ikan, mula-mula di satu bagian kemudian meluas pada bagian tubuh lainnya. Penyebab bintik putih ini tidak lain dari protozoa bernama Ichthyophthirius multifilis.
Sekalipun tidak terlihat mata telanjang, tapi karena protozoa ini berkumpul dalam jumlah banyak, maka akan tampak seperti bintik putih. Diameter seekor protozoa sekitar 0,7 milimeter dan berbentuk seperti telur.
Koi yang terserang bintik putih seolah-olah tertutup oleh bedak putih. Pada tahap awal bintik
putih hanya menyerap cairan tubuh, tapi lama-kelamaan menyebabkan ikan kurus dan akhirnya mati.
Koi akan sangat mudah terserang apabila lingkungannya jelek dan kesehatan koi tidak berada dalam kondisi prima.
Untuk mengobati koi yang terserang bisa dengan cara menaikkan suhu air hingga mencapai beberapa derajat dari suhu awal. Cara ini sering efektif untuk mematikan white spot.
Pengobatan dengan cara menaikkan suhu air kolam 0,5 gram Methelene blue dalam 1 ton air juga cukup efektif dalam mengenyahkan white spot. Pengobatan dilakukan dengan cara pemandian. Selain pada tubuh, white spot juga menyerang insang koi.
Senin, 08 April 2013
Juara 2nd Kediri Koi Show 2013
CHAMPION
BEST IN SIZE, MELATI PRIZE
| Grand Champion | Melati Grand Champion |
Showa Sanshoku,63 cm
Doni Hartono - Kediri Handling: JKC |
Kinginrin A,65 cm
Kuncoro Tanudirjo - Surabaya Handling: Twinkoi |
| Runner Up Grand Champion | |
Kohaku,62 cm
Doni Hartono - Kediri Handling: JKC | |
| Male Champion | Melati Male Champion |
Kohaku,62 cm
Kuncoro Tanudirjo - Surabaya Handling: Twin Koi |
Kinginrin A,57 cm
Reza Teguh Rianto - Surabaya Handling: RTR |
| Adult Champion | Melati Adult Champion |
Shiro Utsuri,53 cm
Liem Boen Ming - Kediri Handling: Herman |
Koromo,55 cm
Kuncoro Tanudirjo - Surabaya Handling: Twinkoi |
| Young Champion | Melati Young Champion |
Taisho Sanshoku,43 cm
Doni Hartono - Kediri Handling: Herman |
Kinginrin A,45 cm
Kuncoro Tanudirjo - Surabaya Handling: Twinkoi |
| Junior Champion | Melati Junior Champion |
Taisho Sanshoku,35 cm
Saipul Tawangsari Indah Koi - Blitar Handling: Anam |
Hi Ki Utsurimono,34 cm
MNC Malang - Malang Handling: Iwak Koi |
| Baby Champion | Melati Baby Champion |
Kohaku,20 cm
Youdy Poluakan - Surabaya Handling: Warna Koi |
Tancho,19 cm
Mutiara Koi - Blitar Handling: Mutiara Koi |
| Mini Champion | Melati Mini Champion |
Taisho Sanshoku,14 cm
KPK-BK - Blitar Handling: KPK BK |
Koromo,10 cm
Youdy Poluakan - Surabaya Handling: Warna Koi |
| Best in Size 61-65 cm | Melati Prize 61-65 cm |
Showa Sanshoku,63 cm
Doni Hartono - Kediri Handling: JKC |
Kinginrin A,65 cm
Kuncoro Tanudirjo - Surabaya Handling: Twinkoi |
| Best in Size 56-60 cm | Melati Prize 56-60 cm |
Showa Sanshoku,58 cm
Chandra Arif - Surabaya Handling: Samurai Koi |
Kinginrin A,57 cm
Handoko Lesmana - Surabaya Handling: Samurai Koi |
| Best in Size 51-55 cm | Melati Prize 51-55 cm |
Kohaku,55 cm
Kuncoro Tanudirjo - Surabaya Handling: Twin Koi |
Doitsu,54 cm
Bintoro - Kediri Handling: Loggi Koi |
| Best in Size 46-50 cm | Melati Prize 46-50 cm |
Kohaku,50 cm
Agustiono Kusumadi - Kudus Handling: Twinkoi |
Kinginrin A,47 cm
Agustiono Kusumadi - Kudus Handling: Twinkoi |
| Best in Size 41-45 cm | Melati Prize 41-45 cm |
Kohaku,45 cm
Reza Teguh Rianto - Surabaya Handling: RTR |
Hikari Moyomono,45 cm
Kuncoro Tanudirjo - Surabaya Handling: Twinkoi |
| Best in Size 36-40 cm | Melati Prize 36-40 cm |
Shiro Utsuri,40 cm
Bambang Supriyanto - Surabaya Handling: Ipoel Koi |
Kinginrin A,40 cm
Bambang Supriyanto - Surabaya Handling: Ipoel Koi |
| Best in Size 31-35 cm | Melati Prize 31-35 cm |
Shiro Utsuri,34 cm
Kuncoro Tanudirjo - Surabaya Handling: Twinkoi |
Kinginrin A,35 cm
Houseki Koi - Jakarta Handling: Iwak Koi |
| Best in Size 26-30 cm | Melati Prize 26-30 cm |
Taisho Sanshoku,27 cm
King - Blitar Handling: SKF |
Kinginrin A,27 cm
Bambang Supriyanto - Surabaya Handling: Ipoel Koi |
| Best in Size 21-25 cm | Melati Prize 21-25 cm |
Kohaku,23 cm
Ali Mubin - Blitar Handling: Ali Mubin |
Kinginrin A,24 cm
Mr Gogi - Surabaya Handling: Koi Garden |
| Best in Size 16-20cm | Melati Prize 16-20 cm |
Shiro Utsuri,20 cm
Ogata Solo - Solo Handling: JKC |
Doitsu,19 cm
Doni Hartono - Kediri Handling: JKC |
| Best in Size up to 15 cm | Melati Prize up to 15 cm |
Shiro Utsuri,15 cm
Doni Hartono - Kediri Handling: JKC |
Kinginrin A,14 cm
Doni Hartono - Kediri Handling: JKC |
Tanda-Tanda Koi Sakit
Menyendiri
Perubahan sekujur tubuh
Koi yang sehat akan berenang riang gembira me-ngelilingi kolam tempat hidupnya. Bila kita temu-kan koi yang menyendiri di sudut kolam dan tidak mau bergabung dengan kelompoknya, kita harus mulai curiga bahwa koi tersebut menderita sakit. Bila hanya sesekali saja seekor koi meninggalkan kelompoknya kemudian balik lagi bergabung, maka hal tersebut biasa dan tidak perlu dicurigai sebagai ikan yang sakit. Pada tahap yang lebih parah, koi ini akan mengambang dan ketika deritanya sudah me-muncak koi ini akan menghantam dinding kolam.
Megap-megap
Biasanya koi yang sehat akan bernapas dengan teratur, tenang dan seirama dengan gerakannya. Koi yang sakit akan bernapas dengan cepat dan mengesankan megap-megap. Gerakan mereka sudah tampak tidak serasi, dan sering terlihat di permukaan air. Koi bukanlah golongan ikan yang dilengkapi alat pernapasan tambahan yang harus menyempat-kan menghirup oksigen dari udara langsung. Oleh karenanya kalau ada gerakan koi yang seperti itu kita sudah harus curiga, terlebih Jika kita lihat ketika bernapas mulutnya terbuka lebar.
Diam di dasar dan strip dada terbuka
Koi yang sehat umumnya akan aktif bergerak kian kemari bersama kelompoknya. Koi yang sakit akan berdiam diri di dasar kolam dengan posisi ship dada terbuka lebar. Bagaimana membedakannya dengan koi yang sedang tidur? Koi yang sedang tidur akan memilih tempat yang sesuai, dan akan diam dengan posisi sirip dada tertutup. Sedangkan koi yang sakit akan tidur di mana saja, tidak peduli tempat itu datar, berbatu-batu, atau di pojok kolam yang menonjol. Lagipula koi sehat yang sedang tidur ketika kita ganggu akan sigap berenang berpindah tempat, sedangkan yang sakit hanya sebentar saja bereaksi, kemudian akan kembali pada posisi semua dan diam tak bergerak. Malahan gerakannya mengesankan kalau koi tersebut tidak memilih tempat baru, melainkan tenggelam.
Tidak bernafsu makan
Koi yang sehat akan memburu dengan sigapmakanan yang disodorkan dan berebut sesama ka-wannya. Namun koi yang sakit tidak akan ikut-ikut-an bereaksi. Selain itu, koi yang sakit biasanya di-tandai dengan cairan yang dikeluarkan dari dubur-nya. Karena makanannya tidak teratur, maka kotoran yang dikeluarkannya pun berpengaruh. Ketika kotoran koi sudah encer, itu suatu indikasi bahwa penyakitnya sudah sangat serius.
Berenang menyentak-nyentak
Koi yang sehat akan berenang dengan mulusnya, kadang cepat, kadangkala lambat dan ber-irama. Namun, Jika kita temukan koi yang berenang menyentak-nyentak secara terus menerus itu pertan-da koi tersebut sedang menderita sakit. Tidak jarang koi yang berenang menyentak-nyentak ini menabrak temannya. Dan sering perilaku berenang menyentak-nyentak ini dilakukan seiring dengan gerakan megap-megap dari mulut dan insang dan dilakukan di permukaan air.
Gerakan salto
Suatu kali mungkin akan kita temukan koi yang bergulingan ketika berenang, baik berguling ke sam-ping atau ke arah bawah. Jika demikian kemungkin-an besar gelembung renangnya berfungsi tidak sem-purna.
Insangnya terdapat parasit
Jika permukaan tubuhnya terlihat biasa-biasa saja, artinya tidak mengalami perubahan yang"ber-arti, tapi dari aktifitasnya mereka terlihat sangat lelah, maka boleh jadi koi tersebut terserang penya-kit. Langkah yang mesti dilakukan adalah melihat insangnya. Ikan yang napas dan aktifitasnya ter-ganggu, biasanya insangnya berubah putih atau ke-hitaman. Bisa juga bentuk insangnya berubah. Warna merah pada insang yang sehat tidak bakal kita temukan lagi. Dan bila sudah demikian koi harus ditangani dengan serius, Jika kita tidak inginkan koi yang lain turut terserang. Tidak jarang juga pada insang koi kita temukan binatang seperti cacing atau kutu yang menempel, karena kita tahu serangan kedua parasit ini meliputi sekujur tubuh tanpa kecuali.
Perubahan pada permukaan tubuh misalnya timbulnya bercak-bercak merah seperti darah, mun-culnya lendir yang kelewat banyak, dan hadirnya binatang-binatang asing pada beberapa bagian atau sekujur badannya. Jika muncul serabut seperti cacing pada tubuhnya, berarti ikan terserang Lernaea, sedangkan bila ada binatang putih, bulat, itu pertanda kena serangan kutu ikan (Argulus).
Langganan:
Postingan (Atom)
















